Skip navigation

Tadi saya nyulik Dora lagi… :)
Masih jam 11.00 siang tadi, saya sudah buru-buru tinggalkan kantor. Kebetulan kerjaan sudah selesai, jadi saya langsung cabut. Apalagi kemarin di klinik saya sudah janjian sama bu Nini kalau saya mau menculik Dora dulu sepulang PKM, baru nantinya akan dikembalikan kalau mau pergi praktek. Rencananya saya mau bawa pulang untuk saya ajak bermain di kolam renang, soalnya kemarin waktu ‘minta ijin’ bu Nini, Timika lagi tidak terik, malah kemarin hujan deras. Jadi saya pikir hari ini masih mendung-mendung gitu…
Rupanya cuaca hari ini berbeda 180 derajat dengan kemarin. Hari ini teriiiiiiiiiiik skali….
Jadi batal lah rencana saya untuk ajak Dora berenang. So… saya bawa Dora ke KFC biar dia bisa bermain di sana.

Membawa Dora jalan-jalan bukan hal yang merepotkan. Dia tidak rewel dan tidak macam-macam permintaannya.
Berikut foto-foto acara kami berdua di KFC siang tadi…

Dora yang sementara makan tiba-tiba berjoget saat mendengarkan lagu “Goyang Duyu” nya Project Pop

dora-1

Dora leluasa bermain sendiri

dora-2

Istirahat dulu mainnya… kan mau maem eskim… Tapi Dora pose dulu yah… pake gaya-standar-punya-Dora… :)

dora-31

Lihat nih… Boneka Barbie yang dibelikan mama dokter… :)

dora-4

Setelah makan, kami ke wastafel buat cuci tangan. Lalu….  Dora pipis…. Dora lagi tidak ber-pampers…. Oh noooo… not again….!
Syukurlah bu Nini bekali saya celana ganti buat Dora. Dan untungnya lagi, Dora  pipisnya di atas keset kaki yang terbuat dari karet dan bercelah-celah seperti sarang burung… Jadi saya tidak perlu panik menghadapi Dora yang sedang memuaskan hasratnya mengosongkan kantung kemihnya… Saya malah pura-pura tidak memperhatikan Dora lagi ‘bocor’ dan memberikan dia kesempatan menyelesaikan pipisnya, tanpa ada yang curiga kalau ada ibu-ibu membiarkan ‘anak’-nya ngompol di tempat umum.. (beruntung saya, wastafelnya berada di tempat yang tidak di-lalu-lalang-i orang-orang).

Setelah saya lihat tidak ada lagi tetesan air di antara kedua kaki Dora, saya trus santai saja melepaskan celananya yang sudah basah dan menggantinya dengan celana kering yang disiapkan mama-asli-Dora. Setelah celana gantinya terpasang, tampak dora gelisah dan meracau tak jelas, “ipit…ipit…” sambil memegang perut dan di ‘bawah perut’nya. Saya termangu sebentar… apa yah yang salah…?
Astaga! Celana Dora teebalik! Bagian depan celananya menghadap ke belakang! Baru saya sadari ketika mendapati boneka (apa kembang yah???) di bagian celananya yang semustinya ada di bagian lutut, malah berada di lipatan lutut dan tampak ganjil karena bentuk bokongnya jadi aneh disebabkan bagian belakang celana ada di depan…! Dan mungkin itu yang Dora maksud “ipit…ipit…” mungkin sempit… apa terjepit? Entahlah… yang pasti dia tidak merasa nyaman dengan celana terbaliknya…

Setelah urusan celana selesai dan bagian-bagian tubuh Dora masuk pada ‘tempat yang benar’ pada celananya, saya lalu  minta kantong kresek KFC pada pramusajinya untuk membungkus celana bau ompol si Dora. Lumayan…. ada oleh-oleh buat mamanya… :)

Berhubung di jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 13.20, saya lalu memutuskan untuk langsung ke klinik saja, tidak usah pulang ke hotel dulu. Karena waktunya sudah tanggung untuk praktek. Saya dan Dora pun naik ojek dan segera meluncur ke KML.

…….

Sepulang klinik, atas permintaan Kaka’ (yang tiba di kamar tidak berselang lama setelah saya tiba), saya kembali memesan pisgor ‘biasa’ di cafe, lalu kami menyantapnya dengan minuman hangat di sore hari. Alhamdulillah… nikmatnya….. :)
Kaka’ lebih senang pisgornya dicocol di keju oles dan ditetesi susu kental cokelat, sementara saya lebih senang dicocol di sambal dan sesekali pake keju cokelat juga.. (semuanya dong??!)

Kaka’: “sebelum mandi, makan pisgor dulu ahh….!”

kaka-n-pisgor

Sekarang, sudah pukul 22.29 WIT. Kaka’ sudah ngorok. Sebenarnya mata saya juga sudah berat. Sejak tadi sudah ngantuk. Mungkin lantaran kecapean dan tadi sempat minum obat Rhinos gara-gara hidungku tersumbat. So… Selamat malam semua… selamat bobo…. mimpi indah dan semoga kesehatan, keselamatan, dan kebahagaiaan menyambut kita esok pagi…. Amin.

Bangun tidur sore tadi, segelas kopi sudah siap untuk Kaka’. Trus, Kaka’ minta dipesankan pisang goreng di cafe. Saya lalu mengangkat gagang telpon dan memencet 147, nomor swim pool cafe dan terdengar pak Mus yang mengangkat telpon. Dia langsung tau kalau saya yang menelpon…
“Halo, sore pak Mus..”
“Ohh.. ini teh bu dokter? Pesan pisang goreng bu?”, pak Mus dengan dialek Sunda-nya yang khas.
“Iya Pak Mus… Seperti ‘biasa’ ya Pak… dua porsi”
“Ooh… Bisa Bu.. Ditunggu ya Bu..”
“Oke Pak… Makasih..”

Orang-orang di cafe sudah tau betul pesanan pisang goreng ‘biasa’ yang saya maksud. Pisangnya tidak mengkal tapi tidak terlalu masak, dipotong kecil-kecil, dicapur tepung terigu, trus digoreng melebar. Biasanya kalau di kampung saya, tidak digoreng melebar, yang penting dicampur, dibentuk seadanya dengan sendok, trus dinaikkan ke penggorengan. Pisgor itu biasanya Ibu saya sebut ‘kambing-kambing’. Tidak tahu saya asal muasal pemberian nama pisgor ini……  Menurutku, ya…. pisang goreng!
Pisang ya pisang… kambing ya kambing… Hehehe…

Sambil menunggu pisgornya diantarkan ke kamar, Kaka’ mengisi waktu dengan mengupas kwaci… Hehehe… hobby ya Kak? :)

Beberapa menit kemudian setelah menunggu lumayan agak lama (waktu saya telp ulang, pak Mus bilang lagi banyak pengunjung di kolam renang), akhirnya pisgornya datang juga…. Pak Mus mengetuk pintu kamar, lalu saya terima pisang gorengnya dengan menyerahkan uang sebesar Rp 30.000,- dibayar tunai!

Karena pisangnya masih panas, jadi beberapa potong saya potong kecil-kecil untuk Kaka’ yang tetap meneruskan mengupas kwacinya.

kwaci-openerrz

Setelah 2 potong pisgor saya makan, Kaka’ trus bahas tentang pisang goreng keju cokelat yang pada awal-awal saya di Timika dulu sering kita pesan di cafe, tapi lantaran bosan dan harganya naujubileh, tidak sebanding dengan porsinya yang cuma seiprit, kami kemudian tidak pernah lagi memesannya dan lebih senang memesan pisgor ‘biasa’.
Saya lalu teringat keju oles dan susu kental manis yang ada di lemari es, lalu keju dan susunya saya ambil dan oleskan di atas pisgor… wow….. mamamia! Lezat..! :)

pisgorrz

Berhubung susu kental manisnya baru keluar dari lemari es, sehingga agak lama menunggu susunya bisa menetes dari kaleng, maka hanya sepotong pisgor saya beri susu cokelat. Selanjutnya hanya saya beri dengan keju oles, dan ternyata menurutku jauh lebih nikmat hanya dengan keju tanpa susu cokelat…!

Menjelang maghrib, saya tawarkan Kaka’ mau makan apa malam ini. Tadi siang saya ngambil menu makanan di resto yang lauknya ada rawon, ayam goreng, sayur tumis tauge tahu, tempe goreng dan sambal terasi, saya cuma ambil rawon, ayam dan sambal terasinya plus nasi putih. Tapi menu makan siang tadi tidak Kaka’ sentuh lantaran kami memang masih agak kenyang setelah sekitar jam 9.30 pagi tadi kami makan indomie goreng pake irisan bakso.
Jadi saya tawarkan Kaka’ mau dipanaskan tidak rawonnya untuk makan malam. Tapi Kaka’ tidak mau rawon, dia malah minta dimasakkan ikan kaleng. Maka jadilah saya memasak ikan sarden dan mengukus kembali nasi putihnya untuk menu makan malam…. :)

masak-nasirz

Apa yang saya mau tulis kali ini terinspirasi dari e-mail seorang teman yang bercerita bahwa dia ‘memanfaatkan’ blog untuk mencari salah seorang temannya yang pernah ngajak berbisnis bareng tapi si teman itu lantas menghilang dan tidak dapat dihubungi sama sekali.
Saya lalu berfikir…. Memang betul yang orang bilang, bahwa dunia maya itu dunia tanpa batas. Segala hal di dunia ini dapat kita ketahui hanya dengan meng-akses internet. Segala macam info tinggal di-search saja, kita bisa dapatkan dalam waktu sekejap.
Termasuk dalam mencari teman atau kenalan yang sudah lama tidak berjumpa, ada situs pertemanan yang bisa dengan mudah ‘menemukan’ teman atau kenalan kita itu hanya dengan men-search namanya saja.

Saya punya pengalaman yang berkaitan dengan pertemanan melalui internet. Kejadiannya baru sekitar beberapa bulan yang lalu, persisnya lupa.. Tapi yang jelas belum setahun-an lah…
Awal kejadiannya begini…..
Melalui Friendster (FS) saya, saya punya hobi buka profil teman,  lalu mencari teman dari teman tersebut, yang dalam istilah per-FS-an dikenal dengan istilah second degree friends. Terutama yang saya suka buka adalah, selain yang second degree friend-nya ternyata adalah juga kenalanku, saya senang sekali buka profil orang yang fotonya unik dan menarik.
Pada suatu hari saya membuka profil salah seorang teman Kaka’ yang baru saja saya add ketika itu, sebut saja namanya Joko (disamarkan). Melalui profil Joko tersebut, saya buka-buka profil lain dari first degree friends-nya.  Ada salah satu foto yang menarik perhatian saya, yaitu foto pasangan yang sedang menikah lengkap dengan pakaian adat bugisnya. Maka saya buka lah profil si ‘pasangan’ pengantin tersebut yang menggunakan nick Bun (inisialnya saja).
Karena rupanya restricted profile atau hanya bisa dibuka oleh first degree friends-nya  , berarti saya gak bisa buka foto-fotonya yang lain, bahkan tidak bisa membuka profil lengkapnya. Jadi ya saya tutup lagi.

Nah… kalo FS itu kan, orang bisa tau kalau kita habis view atau melihat profilnya melalui link who’s viewed me. Rupanya si mbak Bun buka profil saya juga setelah dia melihat siapa yang habis ‘ngintip’ profilnya. Tapi karena saya juga meregister FS saya sebagai restricted profil, dia hanya bisa mengetahui saya adalah teman dari Joko melalui keterangan ‘how-you-are-connected‘.

Beberapa hari kemudian ketika saya cek FS, saya dapat pesan dari  Bun, yang isinya kurang lebih menyapa saya, dan memastikan bahwa saya adalah teman si Joko. Lalu dia memberi saya alamat e-mailnya agar saya dapat meng-add dia sebagai temannya.
Saya pun meng-add nya dan membalas pesannya bahwa yup betul saya kenal si Joko karena Joko adalah teman kuliah suami saya, bla..bla..bla…

Tapi intinya bukan si Joko yang akan saya ceritakan di sini. Joko cuma orang tak berdosa yang menjadi ‘perantara’ sehingga saya mengenal si Bun.
Lalu email-emailan antara  saya dan Bun berlangsung lebih intens karena ada beberapa topik yang nyambung di antara kami. Salah satunya adalah karena suaminya juga bekerja di Timika, tepatnya di Freeport Tembagapura, dan betapa dia kepengen sekali menginjakkan kakinya di Timika ini agar tidak jarak jauh-an lagi dengan suaminya.

Komunikasi kami akhirnya berlanjut dengan tukaran nomor hp, dan pembicaraan tidak lagi sebatas pesan lewat e-mail, melainkan pembicaraan hangat di telpon. Kami cepat akrab karena Bun itu sama cerewetnya dengan saya. Kami tidak pernah kehabisan topik pembicaraan.
Kalau diingat-ingat sih…. jujur saja saya lebih banyak menerima telp darinya ketimbang saya yang menelp. Malah kalau dipikir-pikir pembicaraan baru terjadi lewat telpon kalau Bun yang kontak saya..
Saya sih welcome2 saja kalau ada yang berniat menjadi teman saya, meskipun Bun itu selisih umurnya dengan saya cukup jauh, sekitar 9 tahun kalo gak salah ingat. Dia sudah punya 4 anak dari pernikahannya dengan suami pertamanya (yang di Freeport itu suami keduanya).
Lagian, tidak ada yang salah dari Bun saya rasa…. Dia cukup keibuan, tapi terkesan  gaul dan kadang suka cerita lucu-lucu juga. Dan lagi, dari pengakuannya, rupanya Bun itu masih ponakan salah satu tetanggaku di Makassar yang sekeluarga itu sudah seperti saudara  dengan keluargaku.

Termasuk ketika saya mendapat kabar duka berpulangnya Bapak saya ke Rahmatullah, Bun termasuk yang mengontak saya untuk memberi kekuatan agar dapat menghadapi cobaan ini dengan ikhlas.
Lalu ketika bulan Ramadhan 2008 kemarin saya ada di Makassar, masih dalam suasana berduka kehilangan Bapak, hampir tiap hari saya menerima telp dari Bun, yang kebanyakan dia saja yang bercerita tentang banyak hal. Curhat tentang suaminya, tentang mantan suaminya, tentang anak-anaknya, tentang keisengannya daftar untuk casting bintang iklan peran ibu-ibu. Saya sih cuma mendengarkan dengan baik dan benar saja….
Kadang juga… kalau telp darinya masuk dan saya rasa itu agak kurang tepat waktunya, saya  tidak mengangkatnya.

Sampai suatu hari di pertengahan Ramadhan dia bertanya ke saya, apa saya suka kacang mente atau tidak, dan Bun bilang kalau dia mau kirim kacang mente ke alamat saya di Makassar. Kebetulan dia memang tinggal di Kendari yang terkenal dengan kacang mentenya. Dia bilang sih, bisa menggunakan fasilitas pengiriman barang dari kantornya, jadi gratis ongkos kirim. Yang penting saya mau kacang mente tinggal bilang saja sama dia.

Awalnya saya tidak terlalu tertarik karena menurut saya, ah… merepotkan orang  saja… Tapi dipikir-pikir, boleh juga tuh kacang mente sebagai snack tambahan yang bisa jadi suguhan buat tamu saat lebaran nanti. Tapi saya tidak mau gratis. Tidak enak lah…. Bun juga pasti beli kacang mentenya, masak saya tidak mau ganti duitnya…. Lagian tidak enak juga kalau nanti dikiranya saya ‘memanfaatkan’ pertemanan dengan dia biar bisa gratisan kacang mente.
Lalu saya meng-sms Bun dan menanyakan apa dia bisa kirimkan saya kacang mente barang beberapa kilo, nanti saya ganti duitnya. Dia langsung merespon n menyanggupinya. Dia tanya ke saya mau berapa kilo. Saya lalu bilang mau 1 kilo yang mentah dan 2 kg yang sudah digoreng. Dia bilang oke. Lalu dia merincikan total keseluruhan harga kacang mente itu Rp 250.000,- tidak usah pakai ongkos kirim. Saya pun bilang oke dan minta persetujuannya kalau transferan uangnya nanti saya lakukan kalau kacang mentenya sudah tiba. Dia lantas mengatakan “ah, kalau urusan itu gampang…”. Lega lah saya melakukan deal dengannya.

Keesokan harinya dia mengatakan kalau kacang mentenya sudah dikirim. Saya beritahu dia nanti saya infokan kalau barangnya sudah tiba lalu saya transferkan uangnya.
Besok paginya lagi, ketika saya beres-beres kamar saya menjelang lebaran dan menjelang kedatangan Kaka’ untuk cuti, Bun menelp saya minta uangnya untuk segera ditransferkan dengan alasan, kacang mentenya itu dibeli pakai uang sepupunya, sementara sepupunya itu lagi butuh banget uang. Saya sempat membatin…. “Lho…. perjanjiannya kan nanti kalau kacang mentenya tiba baru saya transfer… koq belum apa-apa saya sudah ditagih…. Kalau memang sepupunya butuh banget uang, kan itu sepupunya! Apa memang gak bisa sama sekali dia dulu yang talangin…?? Karena toh awalnya Bun bilang tidak mempermasalahkan uang pengganti dari saya..”

Tapi saya cepat-cepat buang pikiran tersebut jauh-jauh dan mikir kembali, sudah untung ada yang mau nolong saya nyari kacang mente, sudah untung ada yang mau kirim jauh-jauh… Ya okelah… perjanjian is perjanjian… Tapi namanya teman… apalah artinya membatalkan perjanjian karena sesuatu yang genting. Lagian saya juga mikir… takutnya kalo saya ngotot belum mau bayar, nanti dikiranya saya yang  tidak punya itikad baik untuk mengganti uangnya orang. Lalu sayapun mengatakan pada Bun, oke, uangnya akan saya transfer tapi nanti agak sorean karena saya masih ribet beres-beresin rumah. Tidak ada jawaban sms dari dia, saya anggap dia setuju.

Agak sore, ketika saya bergelantungan  memaku plastik di ventilasi jendela kamar saya, Bun menelp. “Aduh… apa lagi ini?” pikirku…
“Nun… Sudah mi kau transfer uangnya sayang?” suara Bun di seberang telpon.
“Bun… masih beres-beres rumah ka, sebentar lagi baru saya mandi trus ke ATM”
“Aduh sayang…. perlu sekali mi sepupuku dek… Saya tunggu ma ko nah… di ATM ka ini… sms ka kalo sudah mako transfer uangnya… Nda bergerak ka dari ATM ini tunggu transferanmu sayang nah…!”, nada suara Bun sudah mengindikasikan sedikit desakan ke saya.
……….
Agak kesal dan dongkol hati saya… tapi Astaghfirullah…. lagi puasa… Masak gara-gara 250ribu saya batalkan puasaku di saat sudah hampir  Ashar.
Untungnya kak Irin -kakakku- kebetulan mau keluar sore itu. Saya pun minta tolong kak Irin untuk ke ATM  transferkan Bun uangnya itu.
Karena lagi-lagi saya tidak mau dibilang saya menghindari membayar kacang mentenya, saya bilang ke kak Irin untuk transferkan dia Rp 300.000,-!
Kak Irin pun ke ATM dan beberapa menit kemudian meng-sms saya menginfokan bahwa transferan sudah dilakukan.
Lalu saya meng-sms Bun bahwa uangnya sudah saya transferkan sebesar 300ribu. Dia masih membalas “aduh sayang… kenapa ko kasih lebih… padahal 250ribu saja saya bilang sayang….”
…………………..%#@*%$%???@*!!

Beberapa hari menjelang lebaran saya nunggu-nunggu si kacang mente tapi tidak kunjung tiba. Saya sms Bun mengabarkan tentang tidak tiba-nya kacang mente tersebut, sms tidak dibalas.
Sehari sebelum lebaran saya sms lagi: “Bun, sekedar info… Kacang mentenya belum tiba, padahal besok sudah lebaran…”
Tidak dibalas.

Dua hari setelah lebaran saya sms lagi: “Bun, apa kacang mentenya tidak salah kirim? kenapa tidak ada saya terima sampai hari ini? Balas.”
Tetap tidak ada balasan

Saya telpon, tidak diangkat.
Telpon lagi, lagi-lagi  tidak diangkat.
Telpon terus, tetap tidak diangkat.

Kaka’ sepertinya sudah ilfeel  juga dan kasian melihat istrinya ini terus-menerus kontak hp Bun tapi selalu dicuekin. Lalu Kaka’ mengatakan, “Sudahlah…. mungkin memang dia tidak mau ngomong… Kalau memang dia betul-betul kirim kacang mentenya, anggap saja kacang mentenya itu nyasar ke alamat lain. Ikhlaskan saja uangnya… Anggap saja kita bersihkan harta kita dengan mengeluarkan yang 300 ribu itu…”
Ahhh…. suamiku ini memang orang yang baik hati…. suka possitive thinking sama orang dan suka sekali menyejukkan hati di kala kesal…………..  *AAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRGGGHHHH!!!!!*

Bukan masalah uangnya…. (iya sih, uangnya juga!! hehe…), tapi koq ya saya gak bisa habis pikir yah…. segitu manisnya dia ‘menawarkan’ pertemanan dengan saya…. Memperlihatkan kebaikan hati dan kedewasaannya,  lalu pada saat keluarga besarku tengah dalam suasana berkabung, ketika saya berinisiatif mau bantu Ibuku yang hatinya masih dirundung kesedihan ditinggal Bapak, biar tidak repot urusan kue-kue dan cemilan lebaran, biar itu jadi urusan saya, dan si Bun tahu kalau  itu  alasan saya minta tolong ke dia untuk dikirimkan kacang mente. Rupanya dia cuma mau DUA RATUS LIMA PULUH RIBU RUPIAH dari pertemanan kami????!!!

Ada juga yah manusia yang punya hati licik di balik sifat dewasa dan sikap keibuannya… Memanfaatkan kedukaan orang lain demi keuntungan pribadinya…

Seandainya dia membalas sms dan telpon2 dari saya ketika saya kebingungan kenapa kirimannya tidak sampai-sampai, memberi penjelasan apa kek yang bisa meyakinkan saya bahwa dia memang mengirimkan paketnya… mungkin saya tidak akan berfikir se-ekstrim ini, bahwa pertemanan yang dia tawarkan hanya seharga Rp 250.000,- plus Rp 50.000 bonus dari saya…

Setelah beberapa lama tidak ada penjelasan sama sekali dari Bun, saya pun menghapusnya dari FS ku dan mengambil banyak pelajaran dari kejadian yang saya alami dengan mengenalnya…

Yah…. memang agak tipis harapan… tapi moga saja Bun men-search ku karena kalau di FS, saya sudah blocked profilnya. Moga dia bisa baca tulisan saya ini dan menyadari betapa tercela perbuatannya yang telah mendzalimi anak yatim (meskipun saya sudah berkeluarga, tetap saja saya anak yatim!). Moga dibukakan pintu hatinya dan dia segera bertaubat atas penipuan dan perbuatannya yang tidak menyenangkan itu…

“Ibuku…. maaf yah… kacang mente yang saya janjikan buat lebaran kemarin tidak bisa saya tepati… Lha wong saya aja ketipuuuuuuuu…” :)

Seminggu lebih saya tidak posting, tidak banyak kejadian istimewa yang terjadi. Hanya ada satu kejadian di Timika yang sempat membuat perasaan tidak menentu *halah*, yaitu kejadian perselisihan antara dua suku, di mana suku yang terlibat kali ini adalah Bugis dengan suku asli Papua (suku Moni).
Cerita mengenai apa yang terjadi di balik selisih paham ini kurang begitu jelas menurutku, karena terlalu banyak versi.

Tanpa bermaksud memihak pada salah satu suku, saya akan coba memandang kejadiannya secara netral. Intinya pada hari Sabtu (7/2) telah terbunuh salah seorang tetua adat dari suku Moni yang disinyalir dilakukan oleh sekelompok orang Bugis (dengan sebab yang saya sendiri kurang begitu jelas karena kesimpang siuran berita itu tadi) di pasar Timika. Akibat kejadian itu berbuntut tuntutan denda sebesar 1 Milyar kepada pihak pelaku dalam hal ini suku Bugis dengan batas waktu hari senin (16/2), jika tuntutan tidak dipenuhi, maka suku Bugis ditantang untuk berperang… (mama etaa…!).

Masa-masa demo pihak suku Moni itu yang sempat membuat kota Timika menjadi memanas. Selama beberapa hari suku asli Papua tersebut berkumpul, melakukan demo sambil long march dengan pakaian adat lengkap dengan panah, tombak dan parang disertai teriakan dan yel-yel yang cukup membuat orang sekitar bergidik seram.

Akibat kejadian itu, saya sempat dua hari tidak masuk klinik, dan sehari tidak masuk PKM  demi menghindari kekacauan yang tidak diinginkan. Dan pada saat tenggat waktu yang diberikan suku Moni pada suku Bugis untuk mengumpulkan uang 1 M seperti yang mereka tuntutkan telah tiba, kekhawatiran mendalam dirasakan oleh hampir semua orang Bugis yang ada di Timika. Betapa tidak, hanya dalam waktu kurang dari seminggu uang tersebut tidak berhasil dikumpulkan. Ya iyalah…. emang mungut daun? bisa segitu mudahnya? Kalo bulu ketek bisa diuangkan, saya rela kok menyumbangkan bulu ketek ku, dijamin bisa menghasilkan banyak uang! Tapi 1 M??? *garuk-garuk kepala*

Siapapun yang mendengarnya, pasti sepakat hal terebut tidak masuk akal…!
Kenapa yah…. hukum negara segitu susahnya ditegakkan di negeri kita ini????
Sudah ada koq aturannya, kriminal diselesaikan secara pidana. Saya memang bukan orang hukum dan tidak banyak tau soal hukum, tetapi yang saya tau, setiap persoalan itu ada penyelesaiannya, dan dalam hal ini untuk menyelesaikan pertikaian yang (bukan sekali ini saja) terjadi, sudah ada aparat terkait yang berkompeten untuk menyelesaikannya. Bukan dengan cara primitif, dimana nyawa harus dibayar dengan nyawa!

Semoga saya tidak salah, dalam Quran surat Al Hujurat ayat 13, Allah berfirman, “Hai sekalian manusia, sesungguhnya diciptakan di antara kamu  berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar dapat saling kenal mengenal”, dan saya yakin saya tidak salah kalau semua agama mengajarkan kita untuk berbuat baik terhadap sesama manusia sekalipun berbeda agama, suku, warna kulit serta perbedaan apapun yang ada pada tiap-tiap kita seluruh umat manusia di muka bumi ini..

Wahai kedamaian… di manakah kau berada….???

Jam 08.30 WIT, saya dan Kaka’ ke tempat Dora, menjemput dia untuk dibawa jalan-jalan ke Kuala Kencana. Sampai di Kuala, sempat main-main sebentar di tugu Kuala Kencana.
Sebenarnya kami tidak lama di sana, karena sepertinya Dora agak lowbatt… (menurut mamanya memang kalau sepulang sekolah Minggu itu sudah masuk jam bobonya Dora). Jadi saya cuma sempat-sempatkan mampir di Papua Café buat beli donat, risoles, roti, cake mocca dan cheese cake buat camilan Dora and “para penculiknya”… :)

dora-and-om-ibnu

dora-and-mama-dokter

Memang kami berencana mau ngajak Dora berenang. Tapi karena sikon tidak memungkinkan untuk berenang di Kuala, maka kami pun memutuskan bawa aja Dora pulang ke hotel, biar bobo dulu, dan nanti kalau matahari tidak terik lagi baru Dora boleh nyemplung ke kolam.

Kami pun langsung balik ke hotel…. Namanya juga anak-anak, Dora agak bingung pas masuk di kamar. Mungkin masih terasa asing, dan memang sepanjang perjalanan pulang dari Kuala dia bobo terus. Jadi mobil berhenti di depan kamar, dia buka mata and langsung menyesuaikan diri.  “Di manakah saya berada…”, mungkin kurang lebih begitulah yang ada dalam pikirannya. Tapi dasar Dora…. Anak kecil yang gampang sekali menyesuaikan diri, tidak rese, tidak cengeng, cuma sempat Tanya mamanya ada di mana sekali saja, saya kasih jawaban “mama pergi sembahyang”, udah deh…. Setelah itu dia tidak lagi mencari mamanya dan mulai merasa betah main-main di kamar. Dora… Dora…. :)

Tepat jam 12 siang, saya ke resto buat ngambil makan, tentu saja dengan membawa Dora. Sementara Kaka’ sudah teler di kamar. Waduh…. Dora ketakutan setengah mati, soalnya di sekitar pelataran resto dan lobby hotel banyak patung Asmat. Terpaksa deh saya gendong terus si Dora. Lumayan juga pegel, soalnya di resto saya harus mengisi kotak tempat makanan saya sambil terus menggendong Dora. Lalu di kamar saya suapin Dora makan siang. Untungnya lagi, anak ini tidak susah kalau urusan makan. Lumayan banyak juga yang dimakannya… Setelah dia makan, Kaka’ pun bangun lalu saya menyiapkan makanan buat Kaka’.. Wah… lumayan juga yah ngurus anak kecil…. Saya dan Kaka’ sempat ketawa-ketawa waktu membahas, yah… kira-kira seperti inilah kita kalau sudah ada baby… Yang kecil dulu diurus, baru yang gede… Hehe…

dora-bobo

Tidak lama setelah Kaka’ selesai makan, Dora kelihatan sudah ngantuk berat. Dia pun minta dibaringkan. Sebelumnya saya gantikan dulu pampersnya…. Takut pampers yang sejak pagi bocor di kasur…. Hehehe… Sekitar jam 3 sore Dora bangun. Sempat rewel sedikit, tapi begitu saya gendong dia langsung tenang. Saya liat matahari kadang timbul, kadang sembunyi di balik awan. Saya pun membawa Dora ke kolam. Sesampainya di sana dia tampak gembira sekali… Apalagi ada juga beberapa anak kecil yang langsung akrab dengannya.

Karena takut berlama-lama membiarkan anak orang berenang, saya lalu mengajak Dora untuk naik. Tapi mana mau anak-anak lagi asik-asiknya berenang disuruh berhenti.. Tapi yah biar bagaimanapun juga, tidak bisa diikutkan terus… tekutnya dia sakit…

Nah… saat itulah Dora ngamuk…. Tapi karena saya jauh lebih besar, dia pun tidak bisa berbuat apa-apa dalam gendonganku… Cuma sedikit pukulan dia layangkan ke wajahku di tengah amukannya… hehehe…..
Saya berusaha sekuat tenaga membujuk dia supaya bisa tenang. Saya pun membawanya langsung ke dalam kamar mandi, buka kran shower, setel air hangatnya… tangisnya pun seketika mereda dan dia pun kembali bermain-main dengan air. Yah sekalian saja saya mandikan dia setelah badannya kontak dengan air kolam renang.

Oya, ada kejadian menggelikan menurutku, yang saya alami  dengan Dora. Maklum belum punya baby, saya tidak mengerti banyak soal pampers. Waktu Dora bangun tidur, karena saya tidak mau Dora mengalami bete dan bad mood pasca bangun tidur, saya buru-buru bawa dia untuk melihat kolam renang. Memang berhasil, karena dia langsung ceria. Tapi alamak…. Pampers yang dipakainya tidur lupa saya lepaskan dan menggantinya dengan celana dalam. Dora memang dibekali baju renang oleh mamanya, tapi dia tidak mau mengganti baju dalamannya dengan baju renang.
Alhasil apa yang terjadi? Pampersnya pun menggembung karena kemasukan air…. Astaga! Betapa bodohnya saya…. Kenapa tidak dilepas saja yah pampersnya tadi….? Mana tidak ada lagi stock pampers untuknya kalau sudah mandi nanti….

Dengan malu yang saya pendam di dalam hati, saya pun melepaskan pampers Dora. Pasti sudah ada ibu-ibu yang memperhatikan saya, dan mungkin dia membatin “ah, bodoh skali ibu anak ini… masa pampers dipakaikan ke anaknya untuk berenang, ya iyalah menggembung kalau kena air??!!!!”

Halah… saya cuek saja menemani Dora, yang selanjutnya berenang hanya memakai kutang tanpa menutup aurat bagian bawahnya… Maap yah Dora… maklum, mama dokter kurang berpengalaman… hehehehe… :)
Dan apa yang terjadi setelah saya selesai memandikan Dora, sementara tidak ada lagi pampers untuknya…. Saya pun merekatkan pembalut Charm Extra Maxi milik saya ke celana dalam Dora… Yah, tak ada akar, rotan pun jadi… Tak ada pampers, pembalut pun jadi…. :)

Dan untuk menebus rasa bersalah saya pada Dora atas kelalaian dalam memakaikan Dora pampers, pada saat saya dan Kaka’ mengantar Dora pulang, kami mampir dulu di Gelael untuk membelikannya pampers. Saya cuma ingat di pembungkus pampers Dora tadi, ukuran pampers yang dipakai Dora adalah ukuran L, 9-14 kg. Saya pun penuh percaya diri melangkah masuk, berjalan di lorong-lorong Gelael, berhenti tepat di depan rak yang berisi deretan ‘pembalut’ untuk dewasa dan anak-anak. Otak dan mata saya melakukan sinkronisasi untuk men-scan tulisan “momy poko-L-9-14kg”.
Dapat!
Saya pun menggendong Dora ke kasir dan membayar sebungkus pampers isi 10 pads  itu seharga Rp.39.000,- dan kembali bergabung dengan Kaka’ untuk melanjutkan perjalanan ke Klinik Marlon Louis untuk mengembalikan Dora -pada-ibu-ASLI-nya yang lagi tugas jaga sore.
Dalam perjalanan, saya iseng bolak-balik membaca setiap tulisan yang terdapat dalam kemasan pampers berwarna biru itu dan………………… Olala! Terdapat keterangan bahwa pampers dengan kemasan biru untuk ‘boys’, dan kemasan berwarna pink untuk ‘girls’. BERARTI????!!! Salah lagi!!!

Tapi ya sudahlah…. apalah arti perbedaan gender  di jaman sekarang ini… Sedari dini kita harus mengajarkan anak-anak kita untuk mengenal sebuah ‘emansipasi’…….

Sesampainya kami di KML, Dora langsung pamer-pamer camilannya ke mamanya (tentu saja mama aslinya), dan juga ke Dr. Mario. Saya pun menceritakan pengalaman kami seharian ini ke bu Nini, sampai tidak berhenti ketawa dia mendengar kisah kami berdua… Maklum saja… namanya juga mama palsu….  :)

Sepulang dari KML, rasa lelah mulai menderaku, jam menunjukkan pukul 16.30 WIT. Mata terasa sangat berat minta dipejamkan barang sebentar. Tapi saya teringat undangan pernikahan dari teman Kaka’, dan daripada nanti telat, saya lalu menyiapkan pakaian yang akan saya dan Kaka’ kenakan ke pesta pernikahan tersebut, dan karena baik baju saya maupun baju Kaka’ tersimpan agak lama di dalam lemari, saya pun memanaskan setrika untuk melicinkan kembali pakaian-pakaian tersebut. Setelah kelar, saya naik ke tempat tidur dan titip pesan sama kaka’ yang sedang online depan laptop untuk bangunkan saya jam 6 sore lewat seperempat.

Saya terbangun sendiri jam 6 kurang sedikit. Langsung masak air dan bikinkan Kaka’ segelas kopi. Sembari Kaka’ ngopi, saya mulai beres-beres untuk ke pesta nanti. Biasalah perempuan… harus start lebih awal kalau mau beres-beres ke kondangan… :)
Kami pun berangkat tepat pukul 19.15 WIT  menuju Gedung Gita Baruga 61 di jl. Pendidikan, tempat berlangsungnya pesta perjamuan pernikahan.

Saya dan Kaka’ berpose sepulang dari pengantinan
dari-pengantinan

Sepulang dari pesta, saya langsung membuatkan makanan yang Kaka’ sudah request dalam perjalanan dari gedung. Indomie goreng pakai irisan bakso. Kaka’ memang tidak makan di pesta pengantin tadi. Hanya istrinya saja yang makan. Maklum… (tidak usah saya lanjutkan)… :)

Hari ini saya gantian dengan bu Niah untuk kegiatan di luar gedung PKM. Ada kegiatan UKS di SD. Inpres III di jalan Cendrawasih SP. III. Sekitar jam 08:30 WIT saya, bu Yenni, bu Dian dan pak Weby berangkat menuju SP.III dengan menggunakan mobil Pusling (Puskesmas Keliling). Perjalanan yang tidak begitu jauh, hanya sekitar 5 km dari PKM.

Agenda UKS adalah penimbangan berat badan, pembagian Pyrantel (obat cacing), serta penyuluhan dan pelatihan simulasi cuci tangan bagi siswa-siswi kelas I, dan tentu saja pencatatan laporan kegiatan UKS. Sementara itu bu Niah yang gantian dengan saya ‘jaga kandang’ di poli gigi, sedangkan bu Erna sudah mendekati masa partus (melahirkan), jadi kami memang tidak menuntut beliau untuk banyak ambil bagian dari tugas-tugas poli gigi. Iya dong… harus ada kerjasama dan saling pengertian yang baik dengan rekan ‘se-team’ :)

Setiba di SD Inpres III, kami langsung masuk ke ruang kantor guru untuk melaporkan kedatangan kami (sebelumnya sudah ada surat pemberitahuan perihal kegiatan ini), lalu kami langsung diarahkan menuju salah satu ruang kelas dimana dua kelias IA dan IB digabung menjadi satu. Alamak…. Siswanya banyak banget…. Sampai lebih seratus siswa dalam satu kelas…! Mana beberapa diantaranya susah sekali diatur. Maklum anak kelas I, masih kecil dan harus sedikit lebih sabar menghadapinya. Lumayan juga pada saat saya harus memberikan penyuluhan dan pelatihan simulasi mencuci tangan… Suara merduku harus berubah jadi parau di akhir penyuluhan… :D

Setelah penyuluhan, siswa-siswi kelas I pun dipanggil satu per satu sesuai urutan daftar nama kelas mereka untuk ditimbang berat badannya lalu dibagikan obat cacing berdasarkan berat badan perorangan.
Kegiatan diakhiri dengan pemeriksaan ruang kelas, warung sekolah, dan Tanya jawab dengan guru-guru di kantor guru seputar fisik sekolah dll untuk keperluan laporan kegiatan UKS.

Kondisi ruang kelas tempat dilangsungkannya kegiatan,
Sebagian siswa yang masih menunggu giliran pembagian pyrantel:

penyuluhan-12
Saya dan bu Yenni
pembagian-pyrantel-1

Saya gantian dengan bu Dian (yang bawa anaknya, Anti) untuk pencatatan
(sebenarnya gantian poto-poto, hehe…)
pembagian-pyrantel-2

Sekitar pukul 10:30 WIT kami kembali ke PKM untuk melanjutkan kegiatan di dalam gedung. Selain melanjutkan menangani pasien yang sudah dilayani bu Niah, kegiatan saya yang lain adalah memesan semangkuk mie ayam dan menyantapnya di atas meja kerja saya… Hehehe… Mas penjual mie ayam sudah hafal posisi duduk saya di kantor… jadi tinggal pesan, langsung bayar, trus diantar… :) Kan pake mangkuk sendiri, jadi langsung bayar lah… biar tidak repot bolak balik Cuma untuk membayarnya. Dasar pamalas bergerak… (istilahnya Ibuku: Lompoloe’) hehehe…

Sekitar pukul 12:15 WIT, saya pun ‘bergerak mengikuti arus’ teman-teman yang sudah mulai satu-satu meninggalkan PKM… Nunggu ojek sekitar 5 menit, pasang scarf dan safety glasses untuk melindungi kulit muka dan mata, lalu kududuk di belakang bang ojek yang sedang bekerja mengendali motor supaya laju jalannya… Hey! :)

Berhubung sudah kenyang, setiba di hotel, setelah mengambil titipan kunci di FO, saya masuk ke resto Cuma untuk minta cabe rawit ke Ratna, salah seorang pramusaji restonya hotel. Untuk apakah cabe rawit itu? Untuk rujakan…. :) Cuaca panas begini rasanya enak sekali untuk rujakan.
Kebetulan ada bumbu rujak yang Ibu kirim dari Makassar. Cuma tinggal dikasih cabe rawit.
Buahnya?
Cuma mangga muda.
Kenapa?
Soalnya Cuma itu yang ada.
Koq bisa?
Ceritanya gini…. Tadi malam saya dan Kaka’ ke Gelael buat beli Aqua kemasan 1.5 liter untuk persediaan air minum kami yang tinggal satu dos di kamar. Kami pun berencana untuk membeli 4 dos lagi biar agak lama lagi baru beli. Eh jangan salah lho… 4 dos itu kami minum cuma sebulan… Habis… jatah air mineral kami dari hotel hanya 2 botol… itupun Cuma yang 600ml.

Nah, pada saat Kaka’ menaikkan dos-dos aqua ke dalam troley, mata saya langsung tertuju pada sekumpulan mangga golek di deretan pendingin sayur dan buah-buahan. Kebetulan sudah beberapa hari ini saya pengeeeeeeeeeeeeeen skali makan mangga masak. Tapi namanya belanja di swalayan, tra mungkin mo kita coba dulu ale…. Jadi saya terapkan saja ilmu pemilihan mangga masak dari Ibu: “pilihlah mangga yang pocci’nya dalam, berarti mangganya masak”. (Pocci’ is puser or udel in Makassarnese language).

Tapi dari keseluruhan mangga golek yang tergolek tak berdaya menanti colekan pembeli yang tergelak dan tergerak hatinya untuk mengorek isi dompetnya, sebagian besar pocci’nya tidak dalam. Mungkin waktu proses persalinan buah mangga, bidannya tidak memotong tali pusar si mangga dengan baik, jadi mangga-mangga itu mengalami ‘puser bodong’ alias pocci’ nongol atau apalah bahasa Indonesianya yang baik dan benar. Feelingku sih sudah mengatakan… buah-buah mangga ini belum cukup umur… Apa daya, kalau sudah kepengen, Syekh Puji saja senang yang masih di bawah umur… (lho, ini masalah apa kah?)

Alhasil, mangga golek yang sekilonya seharga Rp.35.000,- saya bungkus sebanyak 3 biji, totalnya Rp.47.180,- (coba bayangkan, sudah berapa biji buah mangga yang bisa saya dapatkan di Makassar dengan nominal duit sebanyak itu? Oke… cukup… cukup! Tidak usah dibayangkan!) serta 3 biji mangga madu yang bentuknya imut-imut tapi harganya amit-amit. Sekilo mangga madu harganya Rp.28.500, saya ambil 3 biji totalnya Rp.13.625,-
Alih-alih namanya mangga MADU, setelah saya kupas dan memasukkan sepotong ke dalam mulut, secara spontan berhasil membuat sebelah mata saya terkatup disertai dengan kernyitan di kening dan, merangsang seluruh kelenjar parotis saya untuk mengeluarkan liur dengan kadar yang melewati batas normal… Mungkin madu yang dimaksud oleh pemberi nama mangga ini adalah madu yang dihasilkan dari cairan ketek lebah???! Kecut bin asam!

mangga1

Nah… based on true story buah mangga dari Gelael itu, daripada saya tidak sanggup menghabiskann ya seorang diri… (Kaka’ mah boro-boro mangga muda, mangga masak aja gak gitu doyan!), saya lantas mikir mending dibuat rujak saja, trus bawa ke klinik pas jam praktek. Pasti pada doyan makan rujak… Kan asik juga kalo rujakan rame-rame… Mana enak makan rujak sendirian!
Maka rujak pun selesai saya olah dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Soalnya belum shalat duhur dan harus siap-siap lagi berangkat ke klinik.

Mmmm..siapa yang tahan godaannya…?
rujak-mangga1
Setiba di klinik, rujak bawaan saya pun disambut hangat oleh teman-teman di klinik…. Alhamdulillah laku… Meskipun sampai di sana cuaca tak lagi terik, malah tiba-tiba hujan deras (inilah Timika, cuacanya datang tak dijemput, pulang tak diantar)… Tapi menikmati rujak tetap menjadi selingan yang menyenangkan… :)

Jak…Ruu…jaaaaak……!

Pagi-pagi saya dan Kaka’ sudah bersiap-siap untuk jalan-jalan ke Kuala Kencana. Dengan bermodal rental mobil kepunyaan salah seorang teman kantor Kaka’, kami pun start dari hotel sekitar jam 08:30 WIT.

image070rz

Tujuan kami memang cuma ke Kuala untuk belanja bulanan di Hero. Maklum Kaka’ baru gajian… :) Setiba di Kuala, kami mampir sebentar di tugu untuk berfoto…. :) entah ini tugu apa namanya, yang jelas tugu ini merupakan icon dari Kuala Kencana -kota modern yang dibangun Freeport-.

image082rz

image083rz3

image086rz

Berfoto di depan Masjid Baitur Rahim yang berhadapan dengan tugu icon Kuala Kencana image087rz

Setelah itu kami langsung menuju ke ATM untuk transfer uang bulanan adik ipar saya (Dian) yang ada di Makassar, dan setelah urusan transfer selesai, kami pun langsung mengarah ke Hero.

Seperti biasa, sebelum masuk ke Shopping Centre Kuala Kencana kami harus melewati pos pemeriksaan security untuk men-scan ID card. Memang untuk masuk Ke shopping tidak boleh sekedar masuk. Harus menunjukkan ID card yang dikeluarkan oleh PT. Freeport Indonesia. Soalnya Shopping ini adalah fasilitas yang disubsidi oleh Freeport. Harga barang di Shopping relatif stabil dan lebih murah daripada harga barang di supermarket-supermarket lainnya di Timika. Untuk itu ‘peraturan ketat’ diberlakukan untuk menjamin pemerataan kebutuhan konsumen. Oleh karenanya harus ada pemeriksaan ID card untuk memastikan bahwa yang akan ‘menikmati berbelanja murah’ di Shopping adalah karyawan dari PT. Freeport dan mitranya.

Kalau saya sih tidak punya ID, tapi kan suamiku punya…. :) dan untuk keluarga sudah cukup mewakili lah satu ID itu. Tapi tetap saja tidak bisa untuk beramai-ramai. Kalau sudah tiga orang atau lebih yang ikut ‘nebeng’ di satu ID, paling juga di pos security akan ditanyai macam-macam dan yang terburuk akan dibatasi untuk tidak boleh semuanya masuk…

Bisa dibayangkan kalau Shopping tidak membatasi kunjungan seperti itu. Seluruh warga Timika akan berbondong-bondong belanja di Shopping lalu menjualnya di Timika. Bisa-bisa ‘pemerataan’ untuk karyawan yang berada di bawah naungan perusahaan PT.FI dan mitranya sudah tidak didapatkan lagi. Bahkan untuk memenuhi pemerataan kebutuhan konsumen, ada beberapa item barang yang dibatasi pembeliannya. Misalnya untuk air mineral kemasan botol 1,5 liter hanya dibatasi enam botol saja untuk setiap satu ID card. Oya, kalau kita sudah sampai di kasir untuk membayar belanjaan kita, ID card pun harus (lagi-lagi) diperlihatkan untuk discan.

Setelah kami selesai belanja, kami lalu ke Papua Cafe yang letaknya berhadapan dengan Hero. Apalagi kalau bukan urusan ‘kampung tengah’…. :) Awalnya saya berencana untuk memesan menu Nasi Goreng Kampung, tetapi karena Kaka’ langsung menuju tempat pizza, saya pun ikut-ikutan memesan satu slice pizza. Selain pizza, kami juga memesan risoles dan untuk minumannya kami kompakan memesan ice lemon tea… *slurrrrp* :)

image089rz

Setelah kenyang, kami pun beranjak pulang dengan tidak lupa memesan satu porsi nasi goreng kampung untuk di santap siang di kamar… :) Setiba di kamar, rupanya ‘efek’ dari ‘ganjalan’ pizza dan risoles sudah hilang… :) maka nasi goreng kampung pun menjadi sasaran kami berikutnya… hehehe….Wihhh porsinya sangat besarrrr! Seporsi saya bagi dua dengan Kaka’, hasilnya… Alhamdulillah…. kenyang….. :) dan membuat mata berat kepingin segera tidur… :)

Berikut beberapa foto pemandangan Kuala Kencana yang cuma sempat saya abadikan dari dalam mobil image074rz

image075rz

image078rz

image080rz

image081rz

Pagi-pagi seperti biasa saya bangun lebih awal untuk menyiapkan semua keperluan Kaka’ ke kantor. Rutinitas yang tidak pernah beda dari hari ke hari semenjak saya ada di Timika. Bangun tidur langsung masak segelas air di dalam pemanas air listrik yang saya bawa dari Makassar. Sebenarnya ada pemanas air yang disiapkan oleh pihak Komoro Tame Hotel & Resort –tempat tinggal Kaka’ yang difasilitasi kantornya selama ini (saya cuma nebeng)- tetapi sejak awal Kaka’ tidak pernah menggunakan pemanas air itu.

Setelah air mendidih, sesachet kopi saya seduhkan untuk Kaka’. Setelah itu saya letakkan setelan kantor Kaka’ plus kaos dalam dan underwear bersih tentunya, lalu meletakkan sepatu di bawah kursi. Setelah pakaian Kaka’ beres, saya pun membungkuskan roti untuk bekalnya di kantor. Itu semua sudah jadi Standard Operational Prosedure (SOP) ku sehari-hari.. :)

Singkat cerita, setelah Kaka’ berangkat ke kantor, tadi saya masih sempat naik ke tempat tidur untuk melanjutkan tidurku. Memang sehari-hari Kaka’ berangkat tinggalkan kamar tepat pukul 06:30 WIT. Masih ada waktu sedikit untuk saya tidur sebelum bersiap-siap berangkat kantor. Apalagi karena semalam saya online sampai jam 01:00 WIT. Masih ngantuk…

Jadwal masuk kantor baruku di PKM Timika Jaya secara teori adalah pukul 08.00. Tetapi saya selama seminggu pertama selalu tiba pukul 08:15, staf yang lain belum datang, rata-rata mereka masuk pukul 08:30-09:00. Bahkan tadi saya tidur kembali pun, bangun jam 07:30 untuk bersiap-siap dan berangkat jam 08:15 (tiba tepat jam 09:30), masih belum banyak staf yang datang.

Sebelum berangkat tadi bu Niah sudah meng-sms saya mengabarkan bahwa dirinya berhalangan hadir…

Ass, maaf dr sy izin si kcil sakit. Oya,hr ini ada UKS d al falah tlng tas n timbangan d kshkn ama prwt yg prgi. Trims byk dr…. (Nurjaniah B’ +6285244038xxx received 07:43:11 27-Jan-2009)

Sementara bu Erna, perawat di poli gigi yang satunya masih sakit. Saya kurang tahu pasti beliau sakit apa, sepertinya malaria. Yang memprihatinkannya, karena bu Erna sedang hamil tua (sekitar 37 minggu). Maka jadilah saya ber-solo karier di poli gigi.

Pagi tadi banyakan pasien anak yang berkunjung ke PKM. Mulai dari yang mengalami abcess, ada yang persistensi, ada juga yang terpaksa dicabut gigi Incisivus Sentralis decidui atasnya padahal umurnya baru 6 tahun, lantaran mengalami ulcus cubbitus.

Alhamdulillah semua pasien anak  pagi tadi sukses saya dudukkan di dental unit tanpa ada yang menangis. Bahkan si pasien ulcus sangat kooperatif dicabut giginya dengan anestesi infiltrasi tanpa menangis!

Sampai-sampai ibu haji Bugis yang menjadi pasien sesudahnya bilang, “baguski tawwa bu dokter, pintarki rayu anak-anak jadi nda’ takutki dicabu’ giginya…”

Alhamdulillah… mudah-mudahan ucapan bu haji dicatat malaikat supaya saya tidak menemukan kesulitan menghadapi pasien anak-anak, yang selalu masalah komunikasi psikologi  jadi kendala utamanya.. :)

Sekitar jam 11:00  pasien di poli gigi sudah habis. Saya kemudian membersihkan tempat bekas saya bekerja, cuci alat, mengatur alat yang sudah disterilkan, lalu memindahkan catatan dari status pasien ke buku registrasi untuk memudahkan pembuatan laporan bulanan nantinya. Lalu karena masih cukup banyak waktu lowong, saya pun iseng online dengan menggunakan Opera Mini dari hp saya. Tidak banyak yang saya browse. Cuma liat-liat Reuni Online Smansa, dan membuat sedikit postingan. Dan tepat pukul 12:00 saya pun beranjak keluar dari poli gigi dan meninggalkan PKM.

Setiba di hotel, seperti biasa, langsung mampir di FO untuk mengambil titipan kunci kamar, lalu saya langsung ke Resto untuk makan siang. Setelah kenyang, saya pun langsung masuk ke kamar.

Setiba di kamar, saya kaget karena ada sekotak plastik (bukan kotak sih, karena bentuknya silinder) yang saya identifikasi bukan milik saya. Rupanya ada memo-nya…

Ibu’, ini sedikit oleh2 dari Toraja (bade’ kodong)

Benny

selasa1-2rz

Oooo… dari Benny… Dia itu salah satu pegawai hotel Komoro. Saya tidak tahu persis posisinya di manajemen hotel. PR (Public Relation) iya, supervisor iya… Entahlah… kadang dia juga di FO… pokoknya dia itu super lincah, baru diliat di resto, eh… sudah ada di kolam renang… Salah seorang pegawai hotel yang  cukup ‘berperan’ lah menurut ku…

Dia memang baru pulang cuti ke Makassar, dan kemarin malam waktu saya ngambil makanan di Resto, saya ketemu dia yang rupanya sudah balik. Trus saya sapa dia… “hey Ben…. su datang kah… oleh-olehnya mana?”…

Wah… rupanya dia betulan bawa oleh-oleh buatku… :) senang lah… bukan dari apa yang dia kasihkan, tapi saya betul-betul sangat appreciate  karena dia ingat juga untuk mebawakan oleh-oleh buatku. Memang sih… hampir semua orang hotel saya kenal baik. Mulai dari pemilik saham, staf kantor, resto, swim pool  cafe, sampe house keepernya saya cukup akrab. Ya iya lah… habisnya selama setahun-an ini, cuma mereka-mereka saja ‘tetangga’ku..

Karena kebetulan mulut masih ‘berasa’ lauk makan siang tadi, pas lah… bade’ yang dimaksud si Benny rupanya isinya adalah tenteng kacang (bahasa Indonesianya apa yah…). Yang jelas dia itu terbuat dari kacang tanah yang berbalut gula jawa… Maka si tenteng kacang pun menjadi dessert ku… :)

selasa1-3rz

Setelah itu saya bersih-bersih muka, sikat gigi, shalat duhur, lalu istirahat sebentar dan siap-siap lagi berangkat ke klinik untuk praktek.

Alangkah terkejutnya saya ketika mendapat informasi dari tukang ojek yang mengantar saya ke klinik. Rupanya terjadi (lagi) kekacauan di Timika yang membawa isu suku. Tapi syukurnya titik konfliknya bukan di jalur yang saya lewati dari hotel ke klinik. Kejadiannya begini (menurut versi tukang ojek)…

Hari Minggu dini hari bertempat di bar Queen sejumlah anggota polisi dan brimob sedang berpesta. Subuhnya, dalam keadaan mabuk, salah seorang oknum polisi memukul satpam di bar Queen. Si satpam rupanya adalah orang suku Key. Hanya berselang tidak begitu lama, berbondong-bondonglah orang-orang dari ‘pihak’ satpam mendatangi bar, dan suasana memanas menimbulkan pertikaian yang hebat antara kelompok orang Key dengan kelompok anggota polisi. Tidak tanggung-tanggung, terjadi penembakan dari pihak polisi yang menjatuhkan satu korban dari pihak orang Key.

Kalau kejadiannya seperti ini, yang sudah-sudah sih biasanya ada tuntutan ‘nyawa dibayar nyawa’. Maka Timika pun menjadi tidak kondusif. Hmmm… mudah-mudahan besok keadaan sudah pulih kembali.. *speechless*

Kembali ke hari ini… Tadi siang seluruh staf, dokter dan owner Klinik Marlon Louis  (KML) mengadakan rapat. Pembicaraan seputar evaluasi kerja klinik selama ini dan ke depannya. Di tengah-tengah rapat berlangsung, Opa masuk ke kantor, tempat kami melangsungkan rapat, memberi info bahwa ada pasien gigi. Saya dan Tri, asistenku pun permisi pada Pak Lexi, bapaknya Dr. Mario yang sekaligus owner KML yang memimpin rapat, untuk ke kamar praktek melayani si pasien.

suasana di kantor KML sebelum rapat dimulai. Ki-ka: Zr. Efi, Zr. Nini, Zr. Ika, Zr. Tina, Nita, Zr. Tri, dan kursi kosong itu nantinya di tempati Bertha (apoteker).

selasa1-4rz

Dr. Mario dan Pak Lexi, ayahnya.

selasa1-5rz

Setelah rapat selesai, GAJIAN!! Setiap tanggal 25 adalah jadwal gajian di KML. Tapi berhubung tanggal 25 di bulan ini jatuh pada hari Minggu, dan tanggal 26 adalah hari libur nasional (Imlek), maka gaji pun kami terima hari ini… :)

Alhamdulillah pemasukan poli gigi untuk bulan ini sampai dua kali lipat dibandingkan bulan lalu, yang otomatis berpengaruh pada nominal gajiku… :)

Setelah itu, arisan. Ya.. seperti biasanya setiap tanggal gajian di KML, kami arisan. Arisan ini diikuti oleh hampir semua kru KML, plus Ibunya Dr. Mario. Eh…. Pas arisannya dilot…. Alhamdulillah… namaku yang keluar…! :)

Wah pantesan dua hari ini telapak tangan kananku gatal terus…. Mau dapat rejeki rupanya…. :)

Alhamdulillah….

Coba lihat… Yang senyumnya paling lebar yang dapat arisan…. :)

selasa1rz

Eits…. siapa tuh anak kecil yang ada dalam foto di atas…? :) Itu adalah Dora, anaknya suster Nini. Dora adalah primadonanya KML. Hehhehe… Anaknya lucu, mau digendong siapa saja, cerewet… Maklum baru mengenal beberapa kosakata jadi lidahnya aktif sekali bercuap-cuap. Kami semua sayang sama Dora, soalnya anaknya tidak cengeng, lucu lah pokoknya…. :)

Tadi pagi saya nonton Nuansa Pagi di RCTI dan menyimak sebuah informasi menarik bahwa bertepatan dengan perayaan tahun baru Cina 2559 yang jatuh pada hari ini, akan terjadi sebuah fenomena alam yaitu ‘Gerhana Matahari Cincin’, yang akan terjadi mulai sekitar jam 15:30 WIB dan mencapai puncak jam 16:40 WIB, lalu usai sekitar menjelang adzan maghrib (WIB).

Gerhana matahari terjadi ketika posisi Bulan terletak di antara Bumi dan Matahari sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari. Walaupun Bulan lebih kecil, bayangan Bulan mampu melindungi cahaya matahari sepenuhnya karena Bulan yang berjarak rata-rata jarak 384.400 kilometer dari Bumi lebih dekat dibandingkan Matahari yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer.

Gerhana matahari dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu: gerhana total, gerhana sebagian, dan gerhana cincin. Sebuah gerhana matahari dikatakan sebagai gerhana total apabila saat puncak gerhana, piringan Matahari ditutup sepenuhnya oleh piringan Bulan. Saat itu, piringan Bulan sama besar atau lebih besar dari piringan Matahari. Ukuran piringan Matahari dan piringan Bulan sendiri berubah-ubah tergantung pada masing-masing jarak Bumi-Bulan dan Bumi-Matahari.

Gerhana sebagian terjadi apabila piringan Bulan (saat puncak gerhana) hanya menutup sebagian dari piringan Matahari. Pada gerhana ini, selalu ada bagian dari piringan Matahari yang tidak tertutup oleh piringan Bulan.

Gerhana cincin terjadi apabila piringan Bulan (saat puncak gerhana) hanya menutup sebagian dari piringan Matahari. Gerhana jenis ini terjadi bila ukuran piringan Bulan lebih kecil dari piringan Matahari. Sehingga ketika piringan Bulan berada di depan piringan Matahari, tidak seluruh piringan Matahari akan tertutup oleh piringan Bulan. Bagian piringan Matahari yang tidak tertutup oleh piringan Bulan, berada di sekeliling piringan Bulan dan terlihat seperti cincin yang bercahaya. (sumber: wikipedia)

Tapi sayangnya wilayah Timur Indonesia tidak dapat menyaksikan kejadian ini, karena menurut berita, semakin ke Timur Indonesia, gerhana akan terjadi 20 menit berikutnya, yang berarti ketika gerhana terjadi, wilayah Papua khususnya sudah sunset.

image038rz

Inilah yang Kaka’ kerjakan di hari Minggu siang ini… Hari terakhir cutinya diisi dengan kegiatan mengupas kwaci… :)

Sebenarnya kwacinya sudah kami makan sebagian tadi malam. Tapi karena cape membukanya, akhirnya siang ini Kaka’ melanjutkannya dengan metode ‘kupas dulu’ sebanyak-banyaknya, nanti kelar baru sekalian dimakan.
Selain itu, karena tidak mau permukaan incisal (tepi gigi) menjadi aus karena gigitan kwaci pada proses pengelupasannya, Kaka’ pun menggunakan sebuah tang  kecil untuk mengeluarkan isi kwaci dari kulitnya… Hehehe… Kak… niat amat…. :)

Nah.. ini dia hasil kerja Kaka’ selama sekitar lebih dari  satu jam….

image041rz

Dan setelah itu…………… Kaka’ pun naik ke tempat tidur……….. Ngorok!  Hahahaha….!

Lalu… seorang wanita bertubuh tambun  bergerak mendekati sebuah piring berwarna biru muda, dengan satu alis naik ke atas, sambil membatin… “waaah… ada kwaci kupas nganggur!”  *Rrrrrr!*

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.